Howard Schultz, Orang Dibalik Populernya Tren Ngopi. Pecandu Senja Dan Penikmat Kopi Wajib Tau!

Saat ini bisnis kedai kopi tengah menjadi tren dikalangan pengusaha. Tempat-tempat ini seakan menjadi magnet baru bagi penikmat kopi ketimbang minum kopi sachet buatan istri dirumah. Beranda rumah seolah kurang Asyik apabila di bandingkan dengan kedai-keday kopi yang kini menjamur. Tapi taukah anda siapa yang paling berpengaruh dalam dunia per “kedai kopi” an. Artikel dibawah ini mungkin akan memberikan semangat baru dan inspirasi bagi anda para pebisnis kedai kopi.

Adalah Howard Schultz, seorang mantan CEO perusahaan kedai kopi Starbucks. Sebuah perusahaan kedai seduh kopi dengan jaringan terbesar di dunia. Siapa sangka seorang Howard Schultz dulunya menghadapi kesulitan yang besar dalam mewujudkan kesuksesan kedai Kopinya seperti sekarang.

Masa kecil Schultz cukup memprihatinkan, namun perjuangannya hingga sukses adalah sesuatu yang sangat menginspirasi. Schultz lahir di Brooklyn, New York pada tahun 1953. Ayahnya, Fred Schultz adalah mantan anggota angkatan bersenjata Amerika dan berprofesi sebagai sopir. Kehidupan ayahnya yang juga tidak luput dari musibah yang menimpa. Ayahnya pernah mengalami kecelakaan yang membuat Howard Schultz harus menjadi tulang punggung untuk keluarga sejak usianya masih belia, ditambah lagi ayah Schultz sama sekali tidak sanggup membayar biaya pengobatan.

Hal itu membuat keadaan perekonomian keluarga memburuk. Sampai-sampai Schultz pun sudah bekerja untuk membantu orangtuanya sejak usia 12 tahun. Ada banyak pekerjaan yang pernah dilakoninya, antara lain adalah bekerja sebagai loper koran dan menjadi pelayan kafe. Dan saat Schultz berusia 16 tahun, dia bekerja sebagai penjaga toko. Tidak cukup sampai disitu dikabarkan juga bahwa Schultz hampir tidak dapat meneruskan ke SMA karena keadaan ekonomi keluarga yang waktu itu tidak memungkikan.

Namun Schultz adalah seorang anak dengan banyak bakat dan keterampilan. Salah satu bakat yang dimiliki Schultz ada di bidang olahraga. Schultz memiliki fisik yang sangat kuat, dan hal itulah yang membuatnya berhasil berprestasi di dunia olahraga.

Sebelum sukses bersama Starbucks schultz pernah mencoba peruntungannya sebagai pekerja bidang pasaran di perusahaan asal Swedia bernama Hammarplast. Perusahaan tersebut menjual peralatan pembuat kopi. Pada sekitar tahun 1980, Schultz pernah mengunjungi salah satu pelanggannya yakni kedai kopi Starbucks Coffee Company yang saat itu belum sebesar ini di wilayah Seattle Amerika Serikat. Schuliz memiliki ketertarikan dengan Starbucks, kedai kopi kecil yang membuatnya tertantang untuk bergabung dan bekerja di dalamnya. Ia pun menghubungi Jerry Baldwin yang merupakan pendiri Starbucks agar bersedia menerimanya sebagai karyawan di kedai kopinya.

Saat Schultz bergabung dengan Starbucks, kedai itu telah berusia 10 tahun. Dalam sejarahnya diketahui bahwa ada tiga pendiri Starbucks, yakni Zef Siegl, Jerry Baldwin, dan Gordon Bowker. Uniknya Schultz yang bekerja sebagai pemasar memperoleh gaji lebih sedikit dari pada di Hammarplast.

Pada suatu perjalanan kerja ke Milan, schultz menjumpai bahwa banyak sekali kedai kopi di Milan yang bukan hanya melayani pelanggan yang ingin menikmati secangkir kopi, namun lebih dari itu kebanyakan kedai kopi di Milan menyediakan tempat pertemuan. Usai kunjungan kerja dari Milan, ia percaya bahwa kopi varian baru seperti espresso akan memicu rasa penasaran pelanggan yang menikmati menikmati kopi dengan citarasa Milan yang melegenda. Akhirnya Schultz menyarankan agar Starbucks merubah konsep yang semula kedai kopi agar berubah menjadi semacam restauran, agar para pelanggan dapat menikmati kopi yang mereka pesan sembari mengobrol, namun pihak Starbucks menolaknya.

Keluar dari Starbucks
Akhirnya pada 1985 Schultz memutuskan untuk tidak lagi bekerja di Starbucks, dia bertekad untuk mendirikan kedai kopi impiannya sendiri. Namun tentu saja itu bukanlah hal yang mudah sama sekali. Setidaknya dibutuhkan 400.000 dollar untuk memulai usahanya, disisi lain keadaan istrinya yang waktu itu sedang mengandung anak pertamanya juga menambah kesulitan tersendiri baginya.

Titik terangpun hadir, Jerry Baldwin dan Gordon Bowker menawarkan bantuan. Ditambah lagi ada seorang dokter yang memberikan bantuan sejumlah 100.000 dollar karena terkesan dengan semangat Schultz dalam mewujudkan cita-citanya.

Il Giornale
Pada tahun berikutnya yakni 1986 Schultz membuka kedai kopi impiannya yang diberi nama Il Gionare. Kedai kopi ini berbeda dari Starbucks, Il Gionare tidak hanya menjual kopi namun juga eskrim, Il Gionare juga Menyediakan meja dan kursi sehingga para tamu pelanggan dapat ngobrol bersama pelanggan lain atau teman ngopi mereka sambil menikmati alunan musik khas italia.

Dua taun setelah kedai kopi Il Giornale berdiri, pemilik dari Starbucks memutuskan untuk menjual Starbucks kepada schultz dengan nilai 3,8 juta dollar As. Untuk membeli dan mengembangkan Starbucks Schultz kemudian bekerja keras mencari pendanaan. Secara tidak mudah Schultz menemui sedikitnya 242, hasilnya 217 diantaranya langsung mengatakan tidak!

Schults berhasil mengembangkan kedai kopinya, ia memperluas jaringan kedai kopi Starbucks ke seluruh wilayah Amerika Serikat. Pengalaman serta pengetahuan Schultz dibidang pemasaran membuat jaringan kedai kopi Starbucks sangat berkembang dengan pesat. Bahkan Starbucks resmi berkiprah di bursa saham membuat kekayaan Schultz terus meningkat.

Starbucks terus menunjukan peningkatan yang pesat dan perkembangan usaha yang sangat baik. Jaringannya terus tumbuh dibanyak negara. Namun pada tahun 2008, Starbucks yang berstatus sebagai jaringan kedai kopi raksasa di seluruh dunia mulai goyah. Namun Schultz tidak pernah mudah menyerah, Schultz menutup sebagian cabang usahanya untuk memangkas biaya operasional sekaligus memperkecil potensi kebangkrutan yang mengancam Starbucks.

Saat Howard Schultz mengundurkan diri dari posisi CEO kekayaanya mencapai 3,1 milyar dollar atau setara dengan 41,3 triliun rupiah, sebagian besar pundi kekayaannya ia dapatkan dari kepemilikan kedai kopi Starbucks.

Saat ini kedai Starbucks tersebar di 64 negara dengan 21.500 an jumlah kedai aktif diseluruh dunia. Kini Starbucks tidak hanya menjual kopi tapi juga jus dan kue. Starbucks telah menjadi lambang “tempat ngopi” yang nyaman dan paling prestisius di seluruh dunia.

Menyediakan meja dan kursi sehingga para tamu pelanggan dapat ngobrol bersama pelanggan lain atau teman ngopi mereka sambil menikmati alunan musik khas italia.

Dua taun setelah kedai kopi Il Giornale berdiri, pemilik dari Starbucks memutuskan untuk menjual Starbucks kepada schultz dengan nilai 3,8 juta dollar As. Untuk membeli dan mengembangkan Starbucks Schultz kemudian bekerja keras mencari pendanaan. Secara tidak mudah Schultz menemui sedikitnya 242, hasilnya 217 diantaranya langsung mengatakan tidak!

Schults berhasil mengembangkan kedai kopinya, ia memperluas jaringan kedai kopi Starbucks ke seluruh wilayah Amerika Serikat. Pengalaman serta pengetahuan Schultz dibidang pemasaran membuat jaringan kedai kopi Starbucks sangat berkembang dengan pesat. Bahkan Starbucks resmi berkiprah di bursa saham membuat kekayaan Schultz terus meningkat.

Starbucks terus menunjukan peningkatan yang pesat dan perkembangan usaha yang sangat baik. Jaringannya terus tumbuh dibanyak negara. Namun pada tahun 2008, Starbucks yang berstatus sebagai jaringan kedai kopi raksasa di seluruh dunia mulai goyah. Namun Schultz tidak pernah mudah menyerah, Schultz menutup sebagian cabang usahanya untuk memangkas biaya operasional sekaligus memperkecil potensi kebangkrutan yang mengancam Starbucks.

Saat Howard Schultz mengundurkan diri dari posisi CEO kekayaanya mencapai 3,1 milyar dollar atau setara dengan 41,3 triliun rupiah, sebagian besar pundi kekayaannya ia dapatkan dari kepemilikan kedai kopi Starbucks.

Saat ini kedai Starbucks tersebar di 64 negara dengan 21.500 an jumlah kedai aktif diseluruh dunia. Kini Starbucks tidak hanya menjual kopi tapi juga jus dan kue. Starbucks telah menjadi lambang “tempat ngopi” yang nyaman dan paling prestisius di seluruh dunia.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *