Mengenang Kamikaze, Antara Keputusasaan Dan Semangat Orang Jepang

Kita pasti pernah mendengar tentang perang dunia ke II, perang dunia II diketahui merupakan perang yang paling banyak menelan korban. Perang besar-besarang yang melibatkan banyak negara ini sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap kemerdekaan bangsa kita, terlepas dari itu terdapat banyak kisah menarik Perang Dunia ke II untuk dibahas. Salah satu kisah nyata yang paling terkenal adalah Kamikaze atau serangan pilot bunuh diri. Simak yuk…

Kamikaze yang berarti “angin dewa” dinilai merupakan cara terakhir dari pihak jepang dalam menghadapi tentara sekutu dalam hal ini Amerika. Entah merupakan solusi atau keputus asaan dari Kekaisaran Jepang yang waktu itu menahan laju angkatan laut sekutu yang akan menduduki teluk Leyte di Filipina.

peperangan sengit tak seimbang antara Jepang dan sekutu menjadikan fenomena Kamikaze sebagai drama tersendiri yang menarik untuk sekedar diingat atau diambil pelajarannya. Menurut beberapa sumber, kekaisaran jepang mengalami kesulitan dalam menghadapi angkatan laut sekutu, tidak hanya dari segi armada lautnya tapi juga darat dan udara. Dikatakan bahwa perlengkapan atau armada perang Amerika memang pada posisi yang lebih canggih dan mutakhir. Kita tahu bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang terkenal akan semangatnya, semangat juang untuk mencapai tujuan yang telah menjadi cita-cita bangsa yang kemudian tumbuh menjadi semangat juang yang seakan tak terhentikan.

Ide penggunaan pasukan khusus ini digagas oleh Laksamana Madya Kimpei Teraoka, ia adalah kepala staf komandan angkatan laut di Filipina yang mengeluh jika setrategi biasa tidak lagi efektif untuk dilakukan, Pasukan Jepang haruslah menjadi manusia super. Ide luar biasa ini kemudian direalisasikan oleh Laksamana Madya Takejiro Onishi yang menggantikan Teraoka pada Oktober 1944 yang kemudian dikenal sebagai Bapak Kamikaze. Onishi dianggap bertanggung jawab dalam pembentukannya. Dalam waktu yang sama pada tahun 1944, Letnan Tanaka menekankan pukulan telak pada sasaran lawan hanya bisa berhasil bila pilot ikut serta dalam pesawat roket itu sampai ke sasaran, bahkan dia bersedia menjadi orang yang pertama untuk melakukan hal itu.

Bagi pasukan kekaisaran jepang yang tergabung dalam kesatuan khusus Kamikaze, mengemban tugas sebagai pilot Kamikaze adalah sebuah kehormatan. Mereka berharap dapat memberikan sumbangsih dan menjadi lambang semangat bangsa jepang yang selalu menggetarkan lawan.

Selain itu menjadi penerbang Kamikaze berarti mengangkat martabat atau kehormatan keluarga. Mereka percaya segala macam serangan Kamikaze dianggap sebagai Divine Heroes atau pahlawan yang diistimewakan. Juga diberitakan pemerintah jepang akan menulis sepucuk surat yang berisikan sanjungan untuk putra-putra mereka yang merupakan pahlawan yang berani mengorbankan jiwa untuk bangsa dan negara kepada orang tua pilot Kamikaze yang telah menyelesaikan tugas atau misinya.

Rata-rata pelatih pilot kamikaze merekrut mahasiswa di suatu universitas di jepang saat itu untuk dilatih menjadi sukarelawan dalam misi in. Motivasi yang mendorong para sukarelawan untuk bersedia dilatih menjadi sukarelawan dalam misi kamikaze cukup beragam. Rata-rata mereka sampai rela mengorbankan jiwa raga karena didorong semangat patriotisme, mengharumkan nama keluarga, atau pembuktian keberanian diri dan nyali menjalankan misi yang ekstrim.

Memasuki akhir Perang Dunia II, industri pesawat terbang Jepang yang saat itu terletak di Pulau Jawa (kini wilayah RI) telah mengorbankan 2.525 Buah pesawat terbang yang digunakan dalam misi kamikaze atau serangan bunuh diri, dan angkatan udara jepang telah mengorbankan 1.387 pilot terbaiknya untuk digunakan dalam misi yang sama yakni Misi kamikaze.

Pesawat berbadan imut diatas adalah Ohka, ia adalah sebuah bahan peledak yang dikemas dalam wujud pesawat, ekornya terbuat dari plywood dan bagian hidungnya terbuat dari logam duralumin. Bom terbang ini ditenagai tiga mesin roket dan bisa mencapai kecepatan maksimum 550 sampai 600 mil per jam yang membuatnya sulit ditembak sulit ditembak jatuh saat lepas meluncur dari pesawat induknya. Pesawat berbobot 2,3 ton ini membawa bahan peledak seberat 1400 kg pada moncongnya. Karena bahan kapasitas bahan bakar yang minim pesawat ini hanya mampu terbang 11 mil. Pesawat kecil ini juga tidak mempunyai roda serta hanya bisa di kendalikan oleh pilot di dalamnya, maka dia harus diangkut dengan pesawat pembom.

Penduduk di pulau Kikaijima, yaitu pulau di sebelah timur Amami Oshima, bercerita bahwa para pilot kamikaze terlebih dahulu menaburkan bunga sakura dari udara sewaktu mereka berangkat pada misi terakhir mereka.

Saking menghargainya terhadap kehormatan dan harga diri, admiral Onishi adalah orang yang paling menyesal dan bersedih karena mengirim begitu banyak pasukan yang gugur dalam menjalankan misi Kamikaze. Sehingga pada akhir perang Onishi memutuskan untuk mengahiri hidup dengan bunuh diri tradisional ala jepang, dengan cara menancabkan pedang atau tanto ke perut yang biasa disebut dengan Harakiri atau seppuku.

Terlepas dari pro kontra cara berjuang orang jepang, pelajaran yang dapat kita ambil untuk kehidupan kita adalah semangatnya. Bagaimana masyarakat jepang berjuang dengan sangat keras untuk sebuah cita-cita. Bagaiamana mereka melakukan perjuangan yang begitu total. Walau berakhir dengan kekalahan, setidaknya usaha maksimal mereka dikenang sebagai pelajaran buat kita semua agar mau mencintai proses dan memaksimalkan upaya atau usaha didalam mencapai apa yang menjadi cita-cita besar kita.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *