Penggunaan Masker untuk Olahraga Bersepeda, Haruskah?

Bagi yang hobi bersepeda atau gowes, rasanya tidak mungkin meninggalkan aktivitas ini ditengah pandemi. Terlebih kaitannya dengan manfaat gowes bagi kesehatan yang sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh kita. Anjuran pemerintah tentang larangan berkerumun atau dengan kata lain kita diharuskan menjaga jarak apabila sedang berkumpul, tidak membuat kita atau kalangan pecinta sepeda lain, tetap bersepeda dalam jumlah kecil dan membuat jarak serta tetap mengenakan masker sesuai dengan anjuran pemerintah bisa jadi alternatif bagi kita pecinta olahraga sepeda.

Bersepeda dengan memakai masker saat berolahraga memang tidak nyaman karena menghalangi pernapasan. Apalagi kalau melewati medan menanjak atau bersepeda dengan kecepatan tinggi. Terasa membingungkan memang, karena banyaknya peraturan pemerintah yang menganjurkan untuk pakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

Tidak bisa dipungkiri, pembatasan sosial besar-besaran selama ini membuat banyak orang merasa jenuh. Disisi lain berolahraga sendiri di dalam rumah terasa sangat membosankan, sehingga butuh metode berbeda agar tidak menimbulkan kejenuhan.

Baru-baru ini berita viral tentang pesepeda yang meninggal saat bersepeda di Jakarta tepatnya di daerah sekitar Monas, hal ini telah membuat para pecinta kegiatan gowes semakin merasa was-was. Menurut kabar yang beredar, pesepeda tersebut mengalami keracunan karbondioksida atau CO2 dikarenakan pakai masker saat bersepeda.

Banyak yang berselisih pendapat tentang boleh tidaknya berolahraga memakai masker bersamaan dengan diberlakukannya pembatasan sosial terkait wabah virus Corona atau COVID-19. Untuk beraktivitas di luar ruangan tanpa mengecualikan kegiatan olahraga, warga dianjurkan untuk beraktivitas dengan mengenakan masker.

Namun sebenarnya olahraga pakai masker bukanlah hal baru, karena memang sudah sejak lama kegiatan serupa dilakukan, dan telah banyak dilakukan oleh para pesepeda yang sering gowes untuk menuju tempat kerja. Meski dahulu belum ada pandemi Covid-19, banyak pesepeda mengenakan masker untuk menghidari polusi di jalan raya dan itu sudah menjadi hal yang sangat umum terjadi.

Di kalangan atlet profesional, sebagian pesepeda di Tour de Siak 2019 yang menempuh jarak 60 km bersepeda memakai masker karena kondisi udara yang sedang tidak baik akibat asap kebakaran hutan yang terjadi pada waktu yang sama. Karena kondisi ini pula, jarak tempuh para pesepeda juga dipangkas dari yang awalnya 114 km menjadi 60 km saja .

Penjelasan secara medis
Dilansir dari detik.com Dokter jantung dari Siloam Hospital, dr Vito A Damay, SpJP, mengatakan penggunaan masker sedikit banyak memang menghalangi pertukaran udara. Namun risiko penumpukan karbondioksida juga dipengaruhi jenis masker dan seberapa rapat masker tersebut menutup wajah.

“Harusnya pemakaian masker kain dan masker bedah tidak semudah itu membuat orang meninggal. Kecuali, masker yang digunakan sangat rapat sampai tidak ada celah dan rongga sedikitpun,” kata beliau.

Dari keterangan yang beliau sampaikan, kematian mendadak saat berolahraga terlebih di usia muda, menurutnya lebih sering dikaitkan dengan masalah pada jantung. Namun tentu saja membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dan mendalam untuk memastikannya.

Walaupun demikian, beliau menyarankan untuk waspada terhadap resiko yang mungkin terjadi terutama bila seseorang punya kondisi kesehatan tertentu seperti pada penderita penyakit paru kronik, perokok, atau punya riwayat penyakit jantung. Apabila memang diperlukan, disarankan menggunakan masker khusus untuk meningkatkan kapasitas fisik seperti masker yang sering dipakai para atlet profesional.

“Tidak dianjurkan untuk digunakan tanpa pengawasan dan tujuan yang jelas dan terukur (dalam latihan),” tambah beliau

Apabila terpaksa berolahraga di luar rumah sebaiknya menggunakan masker kain saja. Tidak perlu pakai masker N95 karena pasti akan kesulitan bernapas, tambahnya lagi

“Kalau Anda bisa olahraga di tempat sepi dan tidak ada orang lain, Anda bisa lepas sementara masker itu. untuk kemudian dapat dipakai lagi kalau ada orang dalam radius 2 meter di dekat Anda,” pungkasnya

Berdasarkan dari penjelasan secara medis yang telah kami kutip di atas, kita boleh saja beraktivitas di luar ruangan asalkan mematuhi protokol keselamatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tetap jaga kesehatan dengan berolahraga, istirahat cukup, cuci tangan memakai sabun dan selalu waspada disetiap kesempatan.

sumber : https://health.detik.com/kebugaran/d-5034539/mungkinkah-keracunan-karbondioksida-gara-gara-bersepeda-pakai-masker?_ga=2.203688979.2082746504.1591026947-1474839292.1587885519

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *